Headlines News :
Home » » Banyak Makanan Mengandung Lemak Babi (Lisetin dan Gelatin)

Banyak Makanan Mengandung Lemak Babi (Lisetin dan Gelatin)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Meneliti makanan halal "Allah tidak menghendaki untuk memberikan kamu suatu beban yang berat, tetapi IA berkehendak untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya kepadamu supaya kamu bersyukur." (Q.S.Al-Maidah: 6)

Suatu ketika seorang istri terhenyak ketika suaminya menanyakan hal yang sebelumnya tidak pernah dilontarkan, “Sayang, makanan yang kamu beli halal kan?” Terbata sang istri menjawab “ehh…sepertinya halal mas”. Andai pertanyaan yang sama terlontar pada saya, mungkin saya memerlukan beberapa saat untuk memikirkan apakah makanan yang saya beli benar-benar halal. Mengapa ketidakyakinan tersebut bisa muncul?
Saat ini, ketika teknologi sudah menjadi bagian kehidupan manusia, masalah makanan dan minuman halal menjadi relatif kompleks. Sehingga memilih makanan halal dari ribuan produk pangan industri, bukanlah sekadar proses memindahkan makanan tersebut dari atas rak supermarket kedalam keranjang belanja, akan tetapi merupakan proses seleksi yang harus dilakukan dengan kewaspadaan dan kehati-hatian. Rasanya kita tidak bisa merasa cukup aman hanya dengan memilih makanan yang tidak mengandung babi atau hewan yang tidak halal saja, akan tetapi makanan yang sepertinya halal karena bersumber nabati, bisa menjadi tidak halal karena teknologi pengolahan.
Sebagai contoh, siapa mengira bahwa tepung dan produk roti bisa menjadi tidak halal? kenyataannya bisa. Dalam proses pembuatan produk roti, terkadang ditambahkan “dough conditioner” yang melembutkan, megembangkan adonan dan memperpanjang umur simpan. Dough conditioner ini berisi berbagai jenis bahan, diantaranya L-sistein. Bahayanya, L-sistein yang paling murah dan kerap ditambahkan adalah yang diekstrak dari rambut manusia. Masih dalam pembuatan roti, terkadang sebagian tepung gandum digantikan oleh protein yang diisolasi dari plasma darah (bovine plasma protein isolate) dengan tujuan membentuk karakteristik yang baik. Kita pun tentu masih ingat kehebatan gelatin yang mempunyai beragam fungsi dalam perbaikan kualitas fisik makanan. Aditif ini dapat kita temui pada ice cream dan cake sebagai pengemulsi, pada permen sebagai pembentuk tekstur, bahkan pada juice buah sebagai penjernih, dan lain sebagainya. Kita pun akan terperangah jika mengetahui bahwa karena alasan efisiensi produksi sekitar 90% produksi gelatin dunia adalah berasal dari jaringan kolagen babi.
Proses pengolahan pangan pada skala industri, yang bertujuan untuk menyediakan produk pangan dalam jumlah besar, tahan simpan, mempunyai karakteristik fisik dan nutrisi yang baik, dan bernilai ekonomis, menyebabkan berkembangnya beraneka teknik pengolahan dan pengawetan makanan. Sebenarnya, teknik pengolahan pangan pada skala industri merupakan replika terhadap apa yang dilakukan ibu rumah tangga di dapur mereka. Namun karena proses tersebut melibatkan makanan dalam jumlah besar, penanganan dan proses yang dilakukan akan menjadi sangat rumit dan melibatkan bermacam-macam bahan baku, ataupun aditif (bahan tambahan makanan) yang dapat membantu proses pengolahan atau memperbaiki kualitas. Bahan aditif yang ditambahkan dalam jumlah sedikit ini merupakan hal penting dalam penentuan kehalalan suatu produk. Prinsip ‘bahwa hal yang haram dalam jumlah banyak, dalam jumlah sedikit juga haram’ berlaku. Sampai saat ini tercatat tidak kurang dari 280 macam zat aditif yang lazim digunakan dalam pengolahan pangan di Australia. Zat-zat aditif ini dapat terbuat dari berbagai macam sumber dan mempunyai berbagai macam fungsi. Fungsi yang populer antara lain adalah sebagai pengemulsi, bahan pengisi, pewarna, anti gumpal, memperkaya rasa dan aroma, penjernih, pencegah rasa tengik, pengembang dan pelembut. Dari jumlah aditif tersebut, kira-kira 10% nya berasal dari unsur hewani atau yang meragukan dan selebihnya berasal dari unsur nabati yang halal. Namun pada saat aditif tersebut sudah bercampur dengan makanan, dari segi rasa, penampakan atau aroma mustahil dibedakan asal bahan aditif tersebut.
Mungkin kita terkejut menyadari begitu banyak kemungkinan tercemarnya makanan yang seharusnya halal menjadi tidak halal, tapi itu adalah fakta yang ada di sekitar kita. Sehingga alangkah baiknya bila kita meningkatkan kehati-hatian. Islam mengajarkan kita untuk mengkonsumsi makanan yang baik dan halal seperti disebutkan dalam surat Al Maidah 88: "Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadanya."
Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa baik, yaitu dari segi kesehatan, nutrisi dan estetika, dan halal dari segi syariah merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Hal tersebut merupakan dasar pemilihan makanan yang kita konsumsi. Menyitir kata-kata A’a Gym, bahwa “makan bukan hanya sekadar merasakan kenikmatan dari mulut sampai ke kerongkongan yang panjangnya hanya sejengkal, akan tetapi lebih dari itu makan adalah proses ibadah yang harus dijaga.”
Selain itu perlu kita ingat bahwa efek dari makanan haram yang masuk ke dalam tubuh adalah sangat dahsyat. Hadist shahih riwayat At-Tabrani mengatakan “… Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada orang yang memasukan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalan-amalannya selama 40 hari…”. Juga hadist lain dari Abu Hurairah yang berkata “Setiap daging yang tumbuh dari makanan haram, maka api neraka lebih utama baginya." Masya Allah, akankah kita menganggap remeh perkara makanan halal ini?
Pertanyaan yang dilontarkan sang suami kepada istrinya tadi adalah pertanyaan yang sangat wajar mengingat peran istri sebagai penyedia utama logistik keluarga. Dari survei konsumsi makanan yang bertahun-tahun dilakukan oleh Puslitbang gizi tempat saya bekerja, selalu terungkap bahwa ibu adalah pengambil keputusan utama terhadap apa yang dikonsumsi oleh keluarga. Dari segi nutrisi, terlihat hubungan yang erat antara makanan yang disediakan ibu dengan kecukupan gizi keluarga. Jika ibu cukup berpengetahuan dan pandai memilih, kebutuhan gizi keluarganya tercukupi. Dari survei yang dilakukan oleh majalah konsumen “Choice” juga terungkap peran dominan ibu dalam pemilihan makanan, sehingga tidak heran jika kerap kali ibu rumah tangga menjadi target iklan dengan tujuan untuk mempengaruhi “sang pengambil keputusan” untuk membeli produk yang diiklankan. Peran pengambil keputusan ini penting, apabila dikaitkan dengan masuknya makanan haram dan dalam menu sehari-hari keluarga. Begitu kompleksnya masalah teknologi pengolahan pangan, sehingga pemilihan makanan sudah tidak cukup dengan menggunakan ilmu “kirakira”, memilih berdasarkan bahan dasar makanan yang kira-kira halal. Lebih dari itu, diperlukan pengetahuan untuk memilih.
Membaca label pada kemasan merupakan salah satu jalan bagi seorang ibu untuk memilih makanan. Food Standard Australia mengharuskan produsen untuk mencantumkan “ingredients” utama dan bahan tambahan makanan yang digunakan selama proses produksi. Biasanya bahanbahan tersebut tercantum secara berurut dari bahan yang persentasinya terbesar sampai terkecil. Sehingga apabila kita membeli minuman berkarbonasi (misal ‘coca cola’), dapat terlihat bahwa sebenarnya kita membeli air, gula, pewarna, zat asam, perasa dan kafein. Sayangnya kerap kali bahan tambahan makanan yang dicantumkan adalah dalam bentuk kode-kode, yang untuk memahaminya, diperlukan informasi tambahan. Peraturan pelabelan tersebut juga memperbolehkan produsen untuk tidak mencantumkan bahan tambahan yang digunakan dalam proses pengolahan, selama kandungannya tidak melebihi 1 %. Sehingga kita tidak pernah yakin 100 % bahwa yang tercantum di label adalah apa yang kita makan, selalu ada 1% kemungkinan kita mengkonsumsi bahan yang tidak halal dan baik.
Sangatlah wajar bagi seorang ibu merasa berat dengan masalah pemilihan makanan halal ini. Syukurlah tugas berat ini sudah dipermudah dengan tersedianya “halal guide” dan sertifikasi makanan halal oleh lembaga terpercaya, sehingga tugas ibu rumah tangga dalam memilih menjadi lebih ringan. Jalan yang ditempuh dalam sertifikasi makanan halal adalah bukan sekedar penstempelan cap halal pada bungkus makanan, akan tetapi melibatkan runutan investigasi yang cukup panjang. Misalnya dalam mengkaji kehalalan mie instant, dipelajari apa yang menjadi titik rawan ketidakhalalal kemudian dilakukan penyelidikan. Biasanya pada produk ini titik rawannya adalah zat perasa yang digunakan, dari manakah asalnya dan bahan dasar apa yang digunakan. Apabila zat perasa diekstrak dari bahan alami misalnya ayam, juga perlu diketahui apakah ayam tersebut adalah berasal dari ayam yang halal, demikian seterusnya. Akibat panjangnya investigasi yang dilakukan, proses sertifikasi makanan halal juga dapat menambah biaya, sehingga seringkali kita temui bahwa harga makanan yang telah mendapat sertifikasi halal akan sedikit lebih mahal.
Dengan adanya kemudahan ini, rasanya seorang ibu seperti saya akan sangat berdosa jika karena alasan tidak mau repot melihat panduan halal dan menyeleksi cap halal, atau untuk mendapatkan bahan makanan yang sedikit lebih murah, saya membiarkan anggota keluarga mengkonsumsi makanan yang haram. Bukankah dalam surat Al-Maidah ayat 6 dikatakan bahwa Allah tidak menghendaki untuk memberikan kamu suatu beban yang berat, tetapi ia berkehendak untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya kepadamu supaya kamu bersyukur.
Dan ketika saya menyadari tujuan baik Allah menghendaki umatnya memakan makanan yang baik dan halal, saya berdoa didalam hati semoga saya dan setiap ibu muslimah yang diberi amanah selalu diberi kekuatan, kesabaran dan pengetahuan. Sehingga pada saat pertanyaan diatas kembali dilontarkan, ia dapat menjawab dengan mantap. “Insya Allah mas, makanan ini semua halal”. Sumber bacaan: Masalah Halal: Kaitan Antara Syar’i, Teknologi dan Sertifikasi. Dr. Ir. H. Anton Apriyantono. www.indo-halal.com www.foodstandard.gov.au *) Penulis adalah alumni Postgraduate School of Food Science and Technology UNSW (tahun 2004). Artikel ini diterbitkan di Buletin Jumat KPII, No. 21, 18 Juni 2004. "Allah tidak menghendaki untuk memberikan kamu suatu beban yang berat, tetapi IA berkehendak untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya kepadamu supaya kamu bersyukur." (Q.S.Al-Maidah: 6) Suatu ketika seorang istri terhenyak ketika suaminya menanyakan hal yang sebelumnya tidak pernah dilontarkan, “Sayang, makanan yang kamu beli halal kan?” Terbata sang istri menjawab “ehh…sepertinya halal mas”. Andai pertanyaan yang sama terlontar pada saya, mungkin saya memerlukan beberapa saat untuk memikirkan apakah makanan yang saya beli benar-benar halal. Mengapa ketidakyakinan tersebut bisa muncul?
Saat ini, ketika teknologi sudah menjadi bagian kehidupan manusia, masalah makanan dan minuman halal menjadi relatif kompleks. Sehingga memilih makanan halal dari ribuan produk pangan industri, bukanlah sekadar proses memindahkan makanan tersebut dari atas rak supermarket kedalam keranjang belanja, akan tetapi merupakan proses seleksi yang harus dilakukan dengan kewaspadaan dan kehati-hatian. Rasanya kita tidak bisa merasa cukup aman hanya dengan memilih makanan yang tidak mengandung babi atau hewan yang tidak halal saja, akan tetapi makanan yang sepertinya halal karena bersumber nabati, bisa menjadi tidak halal karena teknologi pengolahan.
Sebagai contoh, siapa mengira bahwa tepung dan produk roti bisa menjadi tidak halal? kenyataannya bisa. Dalam proses pembuatan produk roti, terkadang ditambahkan “dough conditioner” yang melembutkan, megembangkan adonan dan memperpanjang umur simpan. Dough conditioner ini berisi berbagai jenis bahan, diantaranya L-sistein. Bahayanya, L-sistein yang paling murah dan kerap ditambahkan adalah yang diekstrak dari rambut manusia. Masih dalam pembuatan roti, terkadang sebagian tepung gandum digantikan oleh protein yang diisolasi dari plasma darah (bovine plasma protein isolate) dengan tujuan membentuk karakteristik yang baik. Kita pun tentu masih ingat kehebatan gelatin yang mempunyai beragam fungsi dalam perbaikan kualitas fisik makanan. Aditif ini dapat kita temui pada ice cream dan cake sebagai pengemulsi, pada permen sebagai pembentuk tekstur, bahkan pada juice buah sebagai penjernih, dan lain sebagainya. Kita pun akan terperangah jika mengetahui bahwa karena alasan efisiensi produksi sekitar 90% produksi gelatin dunia adalah berasal dari jaringan kolagen babi.
Proses pengolahan pangan pada skala industri, yang bertujuan untuk menyediakan produk pangan dalam jumlah besar, tahan simpan, mempunyai karakteristik fisik dan nutrisi yang baik, dan bernilai ekonomis, menyebabkan berkembangnya beraneka teknik pengolahan dan pengawetan makanan. Sebenarnya, teknik pengolahan pangan pada skala industri merupakan replika terhadap apa yang dilakukan ibu rumah tangga di dapur mereka. Namun karena proses tersebut melibatkan makanan dalam jumlah besar, penanganan dan proses yang dilakukan akan menjadi sangat rumit dan melibatkan bermacam-macam bahan baku, ataupun aditif (bahan tambahan makanan) yang dapat membantu proses pengolahan atau memperbaiki kualitas. Bahan aditif yang ditambahkan dalam jumlah sedikit ini merupakan hal penting dalam penentuan kehalalan suatu produk. Prinsip ‘bahwa hal yang haram dalam jumlah banyak, dalam jumlah sedikit juga haram’ berlaku. Sampai saat ini tercatat tidak kurang dari 280 macam zat aditif yang lazim digunakan dalam pengolahan pangan di Australia. Zat-zat aditif ini dapat terbuat dari berbagai macam sumber dan mempunyai berbagai macam fungsi. Fungsi yang populer antara lain adalah sebagai pengemulsi, bahan pengisi, pewarna, anti gumpal, memperkaya rasa dan aroma, penjernih, pencegah rasa tengik, pengembang dan pelembut. Dari jumlah aditif tersebut, kira-kira 10% nya berasal dari unsur hewani atau yang meragukan dan selebihnya berasal dari unsur nabati yang halal. Namun pada saat aditif tersebut sudah bercampur dengan makanan, dari segi rasa, penampakan atau aroma mustahil dibedakan asal bahan aditif tersebut.
Mungkin kita terkejut menyadari begitu banyak kemungkinan tercemarnya makanan yang seharusnya halal menjadi tidak halal, tapi itu adalah fakta yang ada di sekitar kita. Sehingga alangkah baiknya bila kita meningkatkan kehati-hatian. Islam mengajarkan kita untuk mengkonsumsi makanan yang baik dan halal seperti disebutkan dalam surat Al Maidah 88: "Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadanya."
Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa baik, yaitu dari segi kesehatan, nutrisi dan estetika, dan halal dari segi syariah merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Hal tersebut merupakan dasar pemilihan makanan yang kita konsumsi. Menyitir kata-kata A’a Gym, bahwa “makan bukan hanya sekadar merasakan kenikmatan dari mulut sampai ke kerongkongan yang panjangnya hanya sejengkal, akan tetapi lebih dari itu makan adalah proses ibadah yang harus dijaga.”
Selain itu perlu kita ingat bahwa efek dari makanan haram yang masuk ke dalam tubuh adalah sangat dahsyat. Hadist shahih riwayat At-Tabrani mengatakan “… Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada orang yang memasukan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalan-amalannya selama 40 hari…”. Juga hadist lain dari Abu Hurairah yang berkata “Setiap daging yang tumbuh dari makanan haram, maka api neraka lebih utama baginya." Masya Allah, akankah kita menganggap remeh perkara makanan halal ini?
Pertanyaan yang dilontarkan sang suami kepada istrinya tadi adalah pertanyaan yang sangat wajar mengingat peran istri sebagai penyedia utama logistik keluarga. Dari survei konsumsi makanan yang bertahun-tahun dilakukan oleh Puslitbang gizi tempat saya bekerja, selalu terungkap bahwa ibu adalah pengambil keputusan utama terhadap apa yang dikonsumsi oleh keluarga. Dari segi nutrisi, terlihat hubungan yang erat antara makanan yang disediakan ibu dengan kecukupan gizi keluarga. Jika ibu cukup berpengetahuan dan pandai memilih, kebutuhan gizi keluarganya tercukupi. Dari survei yang dilakukan oleh majalah konsumen “Choice” juga terungkap peran dominan ibu dalam pemilihan makanan, sehingga tidak heran jika kerap kali ibu rumah tangga menjadi target iklan dengan tujuan untuk mempengaruhi “sang pengambil keputusan” untuk membeli produk yang diiklankan. Peran pengambil keputusan ini penting, apabila dikaitkan dengan masuknya makanan haram dan dalam menu sehari-hari keluarga. Begitu kompleksnya masalah teknologi pengolahan pangan, sehingga pemilihan makanan sudah tidak cukup dengan menggunakan ilmu “kirakira”, memilih berdasarkan bahan dasar makanan yang kira-kira halal. Lebih dari itu, diperlukan pengetahuan untuk memilih.
Membaca label pada kemasan merupakan salah satu jalan bagi seorang ibu untuk memilih makanan. Food Standard Australia mengharuskan produsen untuk mencantumkan “ingredients” utama dan bahan tambahan makanan yang digunakan selama proses produksi. Biasanya bahanbahan tersebut tercantum secara berurut dari bahan yang persentasinya terbesar sampai terkecil. Sehingga apabila kita membeli minuman berkarbonasi (misal ‘coca cola’), dapat terlihat bahwa sebenarnya kita membeli air, gula, pewarna, zat asam, perasa dan kafein. Sayangnya kerap kali bahan tambahan makanan yang dicantumkan adalah dalam bentuk kode-kode, yang untuk memahaminya, diperlukan informasi tambahan. Peraturan pelabelan tersebut juga memperbolehkan produsen untuk tidak mencantumkan bahan tambahan yang digunakan dalam proses pengolahan, selama kandungannya tidak melebihi 1 %. Sehingga kita tidak pernah yakin 100 % bahwa yang tercantum di label adalah apa yang kita makan, selalu ada 1% kemungkinan kita mengkonsumsi bahan yang tidak halal dan baik.
Sangatlah wajar bagi seorang ibu merasa berat dengan masalah pemilihan makanan halal ini. Syukurlah tugas berat ini sudah dipermudah dengan tersedianya “halal guide” dan sertifikasi makanan halal oleh lembaga terpercaya, sehingga tugas ibu rumah tangga dalam memilih menjadi lebih ringan. Jalan yang ditempuh dalam sertifikasi makanan halal adalah bukan sekedar penstempelan cap halal pada bungkus makanan, akan tetapi melibatkan runutan investigasi yang cukup panjang. Misalnya dalam mengkaji kehalalan mie instant, dipelajari apa yang menjadi titik rawan ketidakhalalal kemudian dilakukan penyelidikan. Biasanya pada produk ini titik rawannya adalah zat perasa yang digunakan, dari manakah asalnya dan bahan dasar apa yang digunakan. Apabila zat perasa diekstrak dari bahan alami misalnya ayam, juga perlu diketahui apakah ayam tersebut adalah berasal dari ayam yang halal, demikian seterusnya. Akibat panjangnya investigasi yang dilakukan, proses sertifikasi makanan halal juga dapat menambah biaya, sehingga seringkali kita temui bahwa harga makanan yang telah mendapat sertifikasi halal akan sedikit lebih mahal.
Dengan adanya kemudahan ini, rasanya seorang ibu seperti saya akan sangat berdosa jika karena alasan tidak mau repot melihat panduan halal dan menyeleksi cap halal, atau untuk mendapatkan bahan makanan yang sedikit lebih murah, saya membiarkan anggota keluarga mengkonsumsi makanan yang haram. Bukankah dalam surat Al-Maidah ayat 6 dikatakan bahwa Allah tidak menghendaki untuk memberikan kamu suatu beban yang berat, tetapi ia berkehendak untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya kepadamu supaya kamu bersyukur.
Dan ketika saya menyadari tujuan baik Allah menghendaki umatnya memakan makanan yang baik dan halal, saya berdoa didalam hati semoga saya dan setiap ibu muslimah yang diberi amanah selalu diberi kekuatan, kesabaran dan pengetahuan. Sehingga pada saat pertanyaan diatas kembali dilontarkan, ia dapat menjawab dengan mantap. “Insya Allah mas, makanan ini semua halal”.
Sumber bacaan:
Masalah Halal: Kaitan Antara Syar’i, Teknologi dan Sertifikasi. Dr. Ir. H. Anton Apriyantono. www.indo-halal.com www.foodstandard.gov.au
*) Penulis adalah alumni Postgraduate School of Food Science and Technology UNSW (tahun 2004). Artikel ini diterbitkan di Buletin Jumat KPII, No. 21, 18 Juni 2004.
Share this article :

0 comments:

Kritik Saran, pertanyaan dan laporan Link yang rusak hubungi pemilik blog sms atau telpn. No. Hp. 085220511502 -> Klick home untuk melihat kitab-kitab hadits

Kepada para pengunjung silahkan berkomentar yang sopan. Komentar spam akan di hapus

USAHA BLOG

promo usahablog

Usai berkunjung Like atau share

Bagi para pengunjung Saya Rekomendasikan anda supaya mengklik iklan Ust. YUSUF MANSUR INI. Gratis


Kitab 9 Imam

Download Gratis Kitab 9 Imam

Silahkan download gratis kitab 9 Imam, kilck gambar atau judulnya. Klick home untuk memilih kitab lainya. [...]
Shahih Bukhari

Download Gratis Kitab Shahih Bukhari terjemah

Silahkan download gratis kitab Shahih Bukhari, kilck gambar atau judulnya. Klick home untuk memilih kitab lainya. [...]
Kitab Shahih Muslim

Download Gratis Kitab Shahi Muslim

Silahkan download gratis kitab Shahih Muslim, kilck gambar atau judulnya. Klick home untuk memilih kitab lainya.[...]
Kitab Bulugul Maram

Kitab Bulugul Maram

Silahkan download gratis kitab Shahih Muslim, kilck gambar atau judulnya. Klick home untuk memilih kitab lainya.,[...]

Translate

Followers

BISNIS SEPAKTULER SILAHKAN KLIK GRATIS

Daftar Bisnis Syari'ah di sini

Buku Tamu

Tukar Link

Country visitor


web stats
 
Support : Creating Website | Johny Template | SITUS ISLAM OMA SUPARTANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. SITUS ISLAM OMA SUPARTANA - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template