Headlines News :
NEOBUX PTC NO.1 DUNIA TERBUKTI MEMBAYAR MEMBERNYA DI SELURUH DUNIA. DAFTAR KLIK BANNER DI BAWAH INI. PTCSTAIR LTD RAJA PTC NO. 2 DUNIA TERBUKTI MEMBAYAR MEMBERNYA DI SELURUH DUNIA. DAFTAR KLIK BANNER DI BAWAH INI. GRANDBUX RAJA PTC NO. 3 DUNIA TERBUKTI MEMBAYAR MEMBERNYA DI SELURUH DUNIA. DAFTAR KLIK BANNER DI BAWAH INI.
Home » » Penjelasan tentang masalah shalat tarawih

Penjelasan tentang masalah shalat tarawih

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Ringkasan Shalat Tarawih Menurut Tuntunan Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani رحمه الله :

Dari Abi Salamah bin Abdir-Rahman, bahwasanya ia pernah bertanya kepada 'Aisyah رضي الله عنه tentang bagaimana shalat Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم di bulan Ramadhan? Beliau menjawab:"Baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain, beliau صلّى الله عليه و سلّم tidak pernah shalat malam melebihi sebelas raka'at. Beliau shalat empat raka'at; jangan tanya soal bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi empat raka'at; jangan tanya juga soal bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat (witir) tiga raka'at.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (III: 25, IV: 205), Muslim (II: 166), Abu 'Uwanah (II: 327), Abu Dawud (I: 210), At-Tirmidzi (II: 302-303 cetakan Ahmad Syakir), An-Nasa'i (I: 248), Malik (I: 134), Al-Baihaqi (II: 495-496) dan Ahmad (VI: 36, 73, 104).

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sholat malam itu dua dua, maka bila seorang di antara kamu takut telah datang waktu Shubuh hendaknya ia sholat satu rakaat untuk mengganjilkan sholat yang telah ia lakukan." Muttafaq Alaihi.


Sesungguhnya berjama'ah dalam shalat tarawih itu adalah sunnah, dan bukannya bid'ah. Karena nabi صلّى الله عليه و سلّم telah melakukannya pada beberapa malam. Kalaupun setelah itu beliau meninggalkannya, semata-mata karena beliau khawatir bahwa (berjama'ah) itu dianggap wajib oleh salah seorang diantara umat Islam, yaitu apabila beliau melakukannya terus menerus. Namun kekhawatiran itu sudah tidak berlaku lagi dengan sempurnanya ajaran syari'at yaitu dengan wafatnya nabi صلّى الله عليه و سلّم . Sesungguhnya beliau صلّى الله عليه و سلّم shalat tarawih 11 (sebelas) raka'at. Dan hadits yang menyatakan bahwa beliau melaksanakan tarawih itu 20 (dua puluh) raka'at lemah sekali.

Sesungguhnya menambah dari 11 raka'at itu tidaklah boleh, karena kalau ditambah berarti gugurlah fungsi perbuatan Rasul صلّى الله عليه و سلّم dan sabdanya: "Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat aku shalat." Oleh sebab itu, juga tidak diperbolehkan kita menambah jumlah raka'at shalat shubuh misalnya.

Kami tidaklah membid'ahkan dan menganggap sesat orang yang shalat melebihi jumlah raka'at itu, kalau memang belum jelas baginya sunnah dalam hal itu, dan bukan karena memperturutkan hawa nafsu.

Kalaupun ada yang mengatakan bahwa menambah jumlah raka'at itu boleh, yang lebih utama tetap berpegang pada sabda Nabi صلّى الله عليه و سلّم
"Dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad صلّى الله عليه و سلّم"

Sesungguhnya Umar رضي الله عنه tidak pernah membikin bid'ah apapun sehubungan dengan shalat tarawih. Namun beliau hanya menghidupkan kembali sunnah berjama'ah dalam shalat tersebut, dan memelihara bilangan yang disunnahkan dalam shalat itu. Adapun riwayat yang menyatakan bahwa beliau menambahnya sampai mencapai 20 raka'at, tak satupun dari riwayat-riwayat itu yang shahih. Dan jalur-jalur periwayatan hadits tersebut, termasuk golongan yang tak dapat saling menguatkan. Imam Asy-Syafi'ie dan Imam At-Tirmidzi sendiri menyinggung kelemahan hadits tersebut. Sebagian lagi juga dilemahkan oleh An-Nawawi, Az-Zaila'i dan lain-lain.

Tambahan raka'at tersebut kalaupun benar tidaklah wajib (boleh) diamalkan sekarang ini. Karena sebab mendasarinya sudah tidak ada lagi. Meneruskan juga kebiasaasn itu umumnya menggiring para pelakunya mejadi tergesa-gesa melakukan shalat tersebut, sehingga menghilangkan kakhusu'annya, bahkan terkadang keabsahan shalat itu sendiri!

Tidak ada riwayat yang shahih dari para shahabat bahwa mereka shalat tarawih 20 raka'at. Bahkan Imam At-Tirmidzi menyinggung kelemahan riwayat-riwayat itu dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه .

Tidak ada konsensus ulama tentang 20 raka'at itu. Sesungguhnya satu kewajiban (bagi kita) untuk konsisten dengan jumlah raka'at yang disunnahkan.
Karena itulah yang shahih dari beliau صلّى الله عليه و سلّم, dari Umar رضي الله عنه . Padahal Rasulullah telah memerintahkan kita untuk mengikuti sunnahnya dan sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidun.

Sesungguhnya menambah-nambah jumlah tersebut telah disalahkan oleh Imam Malik, Ibnul Arabi dan para ulama lainnya.

Sesungguhnya menyalahi adanya tambahan raka'at ini, tidaklah berarti menyalahkan pribadi para imam mujtahid yang berpendapat demikian. Sebagaimana menyelisihi mereka bukanlah berarti mendiskreditkan ilmu mereka. Juga bukan berarti yang menyelisihi mereka (dalam kekeliruan mereka) itu lebih utama dari mereka baik sisi pemahaman maupun keilmuan.

Sesungguhnya, meskipun menambah jumlah raka'at lebih dari 11 itu dilarang, tapi mengurangi dari jumlah itu boleh. Karena adanya riwayat shahih dalam As-Sunnah dan dilakukan oleh ulama As-Salaf.

Seluruh tata cara witir yang dikerjakan Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم boleh dilakukan. Namun yang paling utama adalah yang terbanyak, dan dengan bersalam setiap dua raka'at.


Sikap terhadap mereka yang menyelisihi dalam persoalan menghindari pengamalan hadits lemah dan yang sejenisnya:

Setelah kita memahami masalah ini, janganlah sampai salah seorang diantara kita berpandangan bahwa kalau kami hanya berpegang pada jumlah raka'at yang ada di dalam hadits tanpa menambah-nambah, berarti kami menganggap para ulama dulu dan sekarang yang tak sependapat dengan kami sebagai ahli bid'ah dan sesat. Sebagaimana tuduhan yang dilontarkan oleh sebagian orang yang hendak memojokkan kami.

Hal itu didasari praduga mereka yang salah; bahwa kalau kami mengatakan bahwa satu perbuatan itu tidak dibolehkan, atau satu perbuatan itu bid'ah, berarti setiap orang yang menyetakan perbuatan itu boleh atau bahkan disunnahkan adalah sesat atau ahli bid'ah! Tidak demikian, itu jelas dugaan yang batil dan kebodohan yang keterlaluan. Karena bid'ah yang menyebabkan pelakunya menjadi tercela dan terkena ancaman hadits-hadits tentang bid'ah itu adalah: "Tata cara dalam melaksanakan islam yang diada-adakan, yang menyerupai syari'at; yang mana tujuan melaksanakan perbuatan itu adalah berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah."[26]

Barangsiapa yang melakukan perbuatan bid'ah untuk menambah-nambah ibadah kepada Allah sementara ia tahu bahwa itu bukan dari syari'at islam, orang itulah yang terkena (ancaman) hadits-hadits tersebut. Adapun orang yang terjerumus melakukan perbuatan itu sedangkan dia tidak mengetahui bahwa itu bid'ah, juga tanpa bermaksud menambah-nambah syari'at (ibadah), orang itu sama sekali tak terkena dan teralamatkan kepadanya (ancaman) hadits-hadits tersebut. namun yang terkena adalah mereka yang menghalang-halangi berkembangnya sunnah dan menganggap baik perbuatan-perbuatan bid'ah serta (beramal) tanpa bimbingan ilmu, petunjuk maupun ajaran kitab Allah yang jelas. Bahkan, mereka tak sudi mengikuti para ulama, namun justru mengekori hawa nafsu dan menuruti orang-orang awam. Sungguh jauh sekali, kalau diantara mereka juga termasuk salah seorang ulama yang dikenal dengan kapasitas keilmuan, kejujuran, keshalihan dan keikhlasannya.

Apalagi para tokoh ulama mujtahid رضي الله عنهمااجمعن . Kita dengan pasti menganggap mustahil kalau mereka itu menganggap baik perbuatan bid'ah hanya untuk menambah-nambah ibadah kepada Allah. Bagaimana itu bisa terjadi, sedangkan pernyataan-pernyataan dalam hal itu yang akan kami sebutkan dalam tulisan yang khusus berkenaan dengan bid'ah, Insya Allah.

Memang betul, bahwa mereka terkadang juga melakukan kekeliruan menurut syari'at. Namun mereka tidak tercela karena kesalahannya itu. Bahkan mereka diampuni dan diberi pahala seperti yang telah berulang-ulang kami sebutkan. Terkadang bagi orang yang meneliti jelas bahwa kekeliruan itu termasuk bid'ah, namun keberadaan dirinya sebagai orang yang diampuni dan tetap diberi pahala tak perlu di perdebatkan lagi. Karena itu terjadi dalam konteks dirinya sebagai mujtahid. Dan seorang yang berilmu tak akan ragu; bahwa tak ada perbedaan antara; bila ia (orang yang berijtihad itu) menganggap sunnah perbuatan yang bid'ah atau ia manganggap halal perbuatan yang haram lalu iapun melakukannya. Semua itu - sebagaimana yang kita ketahui- termasuk kekeliruan yang diampuni. maka dari itu, dapat kita saksikan bahwa para ulama itu meskipun mereka berselisih pendapat demikian keras dalam beebrapa persoalan, namun mereka tidak saling menganggap sesat satu dengan yang lainnya atau saling menganggap satu dengan yang lainnya sebagai ahli bid'ah.

Dapat kita berikan satu contoh. Semenjak xaman para shahabat mereka telah berselisih pendapat tentang menyempurnakan shalat (tidak mengqasharnya) pada waktu safar. Sebagian mereka membolehkannya, namun sebagian yang lain melarangnya bahkan menganggapnya sebagai bid'ah yang menyelisihi sunnah. Namun meskipun begitu, mereka tidak menganggap orang yang menyelisihi mereka sebagai ahli bid'ah. Coba lihat Ibnu Umar رضي الله عنه . Beliau menyatakan:

صَلاَةُالْمُسَافِرِرَكْعَتَانِ، مَنْ خَالِفَ السُّنَّةَكَفَرَ

"Shalat orang yang bersafar itu dua raka'at. Barangsiapa yang menyalahi sunnah berarti dia kafir."
(Diriwayatkan oleh Ibnu Siraj dalam Musnad-nya (XXI: 122-123) dengan dua jalur sanad yang shahih.)

Meski demikian, beliau tidaklah menganggap kafir atau menganggap sesat orang yang menyelisihi baliau karena ijtihad. Bahkan tatkala beliau shalat dibelakang orang yang berpendapat boleh menyempurnakan shalat dalam safar itu, beliaupun ikut juga menyempurnakan shalat. Ibnu Siraj meriwayatkan dari Nabi صلّى الله عليه و سلّم bahwa beliau mengqashar shalat di Mina. Kemudian Abu Bakar, Umar dan juga Utsman رضي الله عنهما pada awal pemerintahannya juga mengqashar shalat mereka disana. Namun kemudian Utsman رضي الله عنهما pernah juga menyempurnakan shalat di Mina. Maka Ibnu Umar, apabila ia shalat di belakang Utsman رضي الله عنهما ia menyempurnakan shalatnya. Namun apabila beliau shalat sendirian, beliau mengqashar shalatnya. [27].

Coba renungkan, Ibnu Umar yang berkeyakinan bahwa orang yang menyelisih sunnah yang jelas dengan menyempurnakan shalat pada waktu safar adalah keliru, ternyata beliau tidak terdorong oleh keyakinannya itu untuk menganggap bid'ah atau sesat orang yang menyelisihinya. Bahkan beliau mau shalat bermakmum dengannya; karena beliau tahu bahwa Utsman رضي الله عنه menyempurnakan shalatnya itu bukanlah demi memperturutkan hawa nafsu -Wal'iyadzu Billah-, Tetapi semata-mata hanyalah karena ijtihad beliau. [28]

Demikianlah jalan tengah yang kami anggap wajib untuk dimiliki setiap muslim sebagai metodologinya untuk mengatasi berbafai perselisihan yang terjadi di kalangan mereka. Masing-masing harus menampakkan apa yang dianggapnya benar dan bersesuaian denan Al-Kitab dan As-Sunnah. dengan syarat, ia tidak boleh menganggap sesat atau menganggap ahli bid'ah orang yang tidak berpendapat demikian karena masih terbawa syubhat yang menyelimutinya. Karena hanya itulah jalan satu-satunya untuk mempersatukan kaum muslimin dan menyatukan barisan mereka. Sehingga kebenaran itu menjadi jelas dan gamblang bagi mereka, tidak terselubung kabut rambu-rambunya. Oleh sebab itu, kamipun melihat bahwa perpecahan kaum muslimin dengan bercerai-berainya mereka memilih imam sendiri-sendiri dalam shalat; yang satu imam Hanafiyyah, yang satu Syafi'iyyah... semua ini bersebrangan dengan prinsip para ulama As-Salaf Ash-Shalih. Dimana mereka bersatu dalam shalat bermakmum kepada satu imam, tanpa harus bercera-berai mengikuti imam yang berbeda-beda.

Inilah sikap kami dalam berbagai persoalan khilafiyah dikalangan kaum muslimin. Menampakkan mana yang benar, tapi kami tidak menganggap sesat orang yang menyelisihi kami dalam kebenaran itu; kalau dia berbuat begitu hanya karena tak jelas baginya kebenaran, bukan karena memperturutkan hawa nafsu. Dan inilah yang kami praktekkan semenjak Allah menghidayahi kami untuk mengikuti As-Sunnah, yaitu semenjak kira-kira dua puluh tahun. [29]

Kamipun mengangankan seandainya sikap semacam ini dimiliki oleh mereka-mereka yang terburu-butu menganggap sesat kaum muslimin. Yang mana prinsip mereka adalah: "Apabila kami ditanya tentang pendapat kami?, kami akan menjawab: Pendapat kami benar, meskipun mungkin salah. Dan kalau kami ditanya mengenai pendapat selain kami?, akan kami jawab: pendapat mereka salah, meskipun mungkin benar."
Termasuk prinsip mereka, mereka menganggap makruh shalat bermakmum kepada orang yang menyelisihi madzhab mereka, bahkan menganggapnya batal. Oleh sebab itu, sampai dalam satu masjidpun mereka bercera-berai sebagainya yang telah kami paparkan tadi; khususnya ketika berjama'ah shalat witir pada waktu Ramadhan! Karena mereka beranggapan, bahwa witir itu tidak shah kalau imam memisahkan antara raka'at genapnya (dalam satu shalat) dengan raka'at ganjilnya. Padahal demikianlah riwayat yang benar dari Nabi صلّى الله عليه و سلّم sebagaimana akan dijelaskan nanti pada pasal pembahasan ke tujuh. Lihatlah komentar kami pada (hal 17). Itulah sikap kami, dan kami kira orang berakal pasti tak akan menyanggah kami dalam hal itu. Barangsiapa yang menisbatkan selain itu kepada kami, berarti dia telah berlebih-lebihan, malampaui batas dan berbuat dzalim. Allah-lah yang akan memperhitungkannya.

Tujuan kami untuk menyebarkan As-Sunnah, baik dalam persoalan ini atau dalam persoalan lain, amatlah jelas dan gamblang. Yaitu dengan cara menyampaikannya kepada umat berdasarkan sabda Nabi صلّى الله عليه و سلّم:

بَلِّغُوْاعَنِّى وَلَوْ آيَةًَ

"Sampaikan dariku meskipun hanya satu ayat."

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Mungkin kalau hadits itu sampai kepada mereka, mereka akan puas dengan keshahihannya sehingga mereka pegang teguh. Dari situlah berawal kebahagiaan dan kemenangan mereka di dunia dan di akhirat. Disana juga dijanjikan kepada kita pahala berlipat ganda, berdasarkan sabdanya:

مَنْ سَنَّ فِى اْلإِ سْلاَ مِ سُنَّةًَ حَسَنَةًَ فَلَهُ أَ جْرُ هَا وَأَ جْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْ مِ الْقِيَا مَةِ

"Barangsiapa yang memulai pengamalan sunnah yang baik dalam islam, maka ia akan memperoleh ganjarannya sekaligus ganjaran orang yang akan turut mengamalkannya sampai Hari Kiamat."

Barangsiapa yang belum puas dengan hadits itu, karena masih samar baginya, bukan karena memperturutkan hawa nafsu, bukan pula mengekori nenek moyang mereka; maka tak seorangpun berhak memojokkan mereka. Apalagi kalau -sunnah tersebut- tak diamalkan oleh sebagian tokoh-tokoh para ulama, sebagaimana halnya dalam persoalan ini (shalat tarawih). Dan taufik itu, semata-mata hanyalah dari Allah سبحا نه و تعالى .

[Di salin dari Shalat Tarawih Menurut Tuntunan Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani رحمه الله, Penerbit At-Tibyan, Cetakan ke-empat, November 2000]
Share this article :

0 comments:

Kritik Saran, pertanyaan dan laporan Link yang rusak hubungi pemilik blog sms atau telpn. No. Hp. 085220511502 -> Klick home untuk melihat kitab-kitab hadits

Kepada para pengunjung silahkan berkomentar yang sopan. Komentar spam akan di hapus

NEOBUX PTC NO.1 DUNIA TERBUKTI MEMBAYAR

Usai berkunjung Like atau share

Neobux PTC No.1 Dunia Terbukti Membayar

Bagi para Clicker hanya Neobux lah PTC YANG TERBUKTI MEMBAYAR DAFTAR CLIK BANNER DI BAWAH INI.

Kitab 9 Imam

Download Gratis Kitab 9 Imam

Silahkan download gratis kitab 9 Imam, kilck gambar atau judulnya. Klick home untuk memilih kitab lainya. [...]
Shahih Bukhari

Download Gratis Kitab Shahih Bukhari terjemah

Silahkan download gratis kitab Shahih Bukhari, kilck gambar atau judulnya. Klick home untuk memilih kitab lainya. [...]
Kitab Shahih Muslim

Download Gratis Kitab Shahi Muslim

Silahkan download gratis kitab Shahih Muslim, kilck gambar atau judulnya. Klick home untuk memilih kitab lainya.[...]
Kitab Bulugul Maram

Kitab Bulugul Maram

Silahkan download gratis kitab Shahih Muslim, kilck gambar atau judulnya. Klick home untuk memilih kitab lainya.,[...]

PTC NO.1 DUNIA

Translate

Followers

PTC TERBUKTI MEMBAYAR

PTCStair LTD Membayar

PTC Buxvertise Membayar

PTC Grandbux Membayar

CASHBUX MEMBAYAR

Daftar Bisnis Syari'ah di sini

Buku Tamu

Tukar Link

Country visitor


web stats
 
Support : Creating Website | Johny Template | SITUS ISLAM OMA SUPARTANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. SITUS ISLAM OMA SUPARTANA - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template